Rabu, 15
Juli 2015 / 29 Ramadhan 1436 H
Malam itu aku terhempas
dari tempat tidur karena adzan isya akan berkumandang. Kulihat jarum jam
menunjukkan pukul 19.40 WIB. Betapa bersalahnya aku terlelap usai memakan
hidangan berbuka buatan spesial mamaku. Aku bergegas ke kamar mandi untuk
membersihkan diri. Berharap masih bisa mengejar sholat isya jama’ah. Ada yang
spesial dengan malam ini karena malam ini merupakan tarawih terakhir di 1436 H.
Aku pun mempersiapkan pakaian terbaikku. Dalam hitungan jam, dia akan pergi.
Meninggalkanku untuk hidup mandiri selama 11 bulan kedepan.
Tidak ada lagi
tarawih-tarawih indah itu.
Ramadhan yang begitu berbeda dari
tahun sebelumnya ini akan segera pergi meninggalkanku. Meninggalkanku dengan
segala ketidakmaksimalan ibadahku. Masih aja aku mengecewakanmu wahai Ramadhan.
Apa boleh buat aku hanya manusia biasa yang memang lagi berusaha untuk bisa
hidup melekat denganmu hingga di bulan-bulan berikutnya. Sepuluh hari awal
ramadhan aku habiskan di Depok menghasilkan sedikit cerita. Ini berarti aku
tidak full melaksanakan sholat tarawih di Mesjid Al-Utamaniyah, Mesjid
sederhana di dekat rumahku. Tidak banyak perbedaan antara aku sholat tarawih di
Depok dan di Medan. Yang membedakan hanya jumlah rakaat dan ceramahnya saja. Overall, itu tidak jadi masalah. Tetapi,
satu hal yang paling aku rindukan selama 4 tahun terakhir ramadhan ini adalah
melaksanakan sholat tarawih satu malam satu juz. Betapa luar biasanya pihak
Mesjid Al-Utamaniyah yang setiap malamnya mendatangkan Hafiz Quran yang masih
muda-muda. Setiap malamnya itu aku serasa dicambuk oleh lantunan ayat-ayat yang
mereka bacakan dengan fasih. Ada bang Akmal, bang Taufiq, dan lainnya (Mereka
tidak mau dipanggil ustadz). Usia mereka hanya sekitar 20-30 tahun. Tidak jauh
berbeda denganku yang tahun ini akan memasuki usia 20 tahun juga. Tapi, mereka
sudah mampu menghafal luar kepala kitab suci 600-an halaman itu. Sedangkan aku?
Sudah terjawab semunya. Memang tahun ini ada beberapa target yang telah aku
rancang. Salah satunya adalah menambah hafalanku sebanyak-banyaknya, mengembalikan
hafalanku yang telah hilang sejak di madrasah bertahun-tahun lamanya (Aku
pernah di madrasah 4 tahun waktu SD). Rasanya, selama ini aku merasa bersalah
karena menzalimi al-quran dengan ilmu-ilmu dunia. Melalui ramadhan ini menjadi
momentumku untuk jauh lebih dekat dalam menelaah kalam Allah.
Setiap malamnya, aku berdiri kurang
lebih 2 jam. Bukan hanya kakiku saja yang bergetar, tetapi hati ini juga
bergetar ketika dibelakang imam muda yang hafiz membacakan ayat demi ayat yang
sama sekali aku gak mengerti artinya. Tetapi, energinya merasuk ke dalam
jiwaku. Benar-benar merasuk ketika energi yang terkumpul di dalam mesjid kecil
ini masuk ke dalam jiwaku. Hingga akhirnya aku sempat meneteskan air mata.
Betapa bahagianya kedua orang tuanya karena anak kebangaannya telah berhasil
memberikan mahkota terindah buatnya. Aku terus dan terus berpikir. Kapan ya
Allah pilih aku untuk menerima anugerah terindah itu? Tidak ada yang tidak
mungkin.
Aku memang tidak pernah berstatus
“santri” dan tidak pernah mondok sama sekali. Tapi apa bedanya dengan mereka,
dengan teman-temanku yang hafalannya sudah segudang? Tidak ada yang berbeda
kawan, hanya niat dan usaha yang harus diperhatikan. Dan melalui Ramadhan ini aku mengumpulkan
niat sebannyak-banyaknya sebagai amunisiku selama 11 bulan kedepan. Terkadang
aku malu melihat hafiz-hafiz/ah cilik yang berusia belia. Betapa beruntungnya
mereka bisa dibesarkan di keluarga Qurani. Betapa beruntungnya mereka bisa
benar-benar “memanfaatkan” usia muda mereka. Beberapa kali aku sempatkan juga
untuk membaca kisah-kisah penghafal al-quran dan video-video yang diberikan
oleh Faris JU salah satunya. Aku benar-benar tercambuk dengan semua itu.
Benar-benar berpikir 20 tahun ini aku ngapain aja ya di dunia. Mungkin, ibadah
sholat tarawih ini menjadi pengingat buatku bahwasanya kenapa kita harus
menghafal al-quran. In shaa Allah, Allah masih memberikan 20 tahun lagi untuk
memperbaiki 20 tahun sebelumnya dan aku gak akan membiarkan waktu itu terbuang
sia-sia.
Pelajaran yang bisa aku ambil dari 29
hari lamanya begitu banyak. Pelajaran yang bisa aku ambil adalah pelajaran. Iya
pelajaran untuk belajar dan belajar tanpa lelah. Karena pada hakikatnya, kita
adalah manusia sang pembelajar. Jangan pernah lelah untuk belajar terutama
mempelajari Al-quran. Lupakan tahun-tahun sebelummu. Ambil hikmah dan
pelajaran. Jangan dijadikan hambatanmu untuk maju ke depan. Jadikan orang-orang
yang kamu anggap sukses sebagai motivasi terhebatmu. Jangan jadikan mereka
sebagai ladang iri hati yang hanya menodai hati ini. Aku akan bertekad untuk
hal ini. Benar-benar bertekad. Aku gak mau main-main lagi dan terlalu
menyia-nyiakan umurku dengan ilmu dunia. Dan ini merupakan salah satu bagian
dariku untuk memantaskan diri. Bismillahirrahmanirrahim, setidaknya minimal aku
harus uda punya hafalan seperempat Al-quran sebelum menikah. In shaa Allah.
Doain ya kawan.
Tetapi, ada lagi sebuah harapan yang
telah aku rindukan sejak empat tahun lamanya yaitu menjadi imam sholat tarawih
di mesjid kecil yang sederhana di Jln. Utama Gg. Haji Syukur, Medan, Mesjid
Al-Utamaniyah. Aku masih punya waktu 11 bulan lamanya. Semoga Allah masih
memberikan kesempatan untuk hadir bersama-sama di bulan Ramadhan tahun depan
dan seterusnya. Semoga ini tidakhanya menjadi sebuah harapan yang tersimpan rapi
dalam memori usang bertahun-tahun lamanya. Hamasah.
Ya Allah,
dengan Al-quran karuniakanlah kasih sayangMu kepada hamba. Jadikan Al-quran
sebagai imam, cahaya, hidayah, dan sumber rahmat bagi hamba. Ya Allah,
ingatkanlah hamba jika ada ayat yang hamba lupa mengingatnya. Ajarkan kepada
hamba ayat yang hamba bodoh memahaminya. Karuniakan kepada hamba kenikmatan
membacanya sepanjang waktu, baik tengah malam maupun tengah hari. Jadikan
Al-quran bagi hamba sebagai hujah, Ya Rabbal ‘Alamin.
Di penghujung Ramadhan, Rabu, 15 Juli 2015 M / 29 Ramadhan 1436 H
Di pojok kursi ruang tamu, Medan, Sumatera Utara
No comments:
Post a Comment