Pages

Sunday, August 10, 2014

Kenyataan dan Harapan Kesehatan Indonesia




Berawal dari kondisi kesehatan masyarakat yang masih tertinggal dibandingkan negara berkembang lainnya. Di sini saya mengangkat masalah mengenai kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan kenyataan yang kita lihat selama ini, masyarakat masih dipersulit urusannya dalam hal kesehatan. Masih sangat banyak rakyat Indonesia yang belum mendapatkan haknya untuk hidup sehat. Fakta bahwa sistem kesehatan di Indonesia masih amburadul seperti ketidaksiapan birokrasi kesehatan, tidak terjangkaunya biaya kesehatan, kurangnya kualitas pelayanan kesehatan, peralatan kesehatan yang kurang memadai hingga kurangnya penyebaran dokter di Indonesia. Hal ini juga diperparah dengan kurangnya kesadaran rakyat dalam menjaga kesehatan dan berprilaku hidup sehat.

Mirisnya birokrasi kesehatan di Indonesia
Ketika kita berbicara mengenai birokrasi kesehatan kaitannya adalah mekanisme dalam bentuk pelayanan kesehatan. Berawal dari fakta yang telah dipaparkan pada bagian pendahuluan bahwa sistem birokrasi kesehatan Indonesia masih kurang baik. Saat suatu sistem tersebut terkena suatu masalah maka seluruh komponen yang terkandung didalamnya juga menjadi masalah sehingga menjadi berantakan di dalam sistem tersebut. Lemahnya birokrasi kesehatan di Indonesia yang berefek dengan kelalaian pemerintah dalam mengalokasikan dananya ke rumah sakit yang khususnya berada di perdesaan sehingga banyak rumah sakit yang terancam bangkrut. Hasil akhirnya adalah banyak rumah sakit yang menolak pasien karena memiliki keterbatasan biaya. Seharusnya pihak rumah sakit tidak boleh menolak pasien emergency meskipun mereka belum mempunyai kartu jaminan kesehatan. Solusi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pun terkadang juga mempersulit pasien karena fakta yang telah ditemui bahwa dokter juga menurunkan kualitas pelayanan kesehatan. Kasus yang terjadi pada tahun 2013 yang lalu adalah kasus bayi Naila yang ditolak salah satu rumah sakit di Sulawesi Selatan akhirnya meninggal di pangkuan ibunya tepat berada di depan loket rumah sakit karena keterlambatan penangan. Kasus tersebut menjadi cerminan kita bahwa birokrasi pelayanan kesehatan di Indonesia masih kurang baik.

Dengarkan suara hati kami
Banyak rakyat yang telah bersuara karena kurang baiknya pelayanan kesehatan di Indonesia. Hal ini sama saja dengan merampas hak mereka untuk hidup sehat termasuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik. Sudah dapat dipastikan bahwa tidak ada yang mau ketika pelayanan kesehatan yang seharusnya mereka dapatkan tetapi tidak mereka dapatkan. Di sini pemerintah belum mampu mendengar suara hati rakyat terkait dengan pelayanan kesehatan yang ada. Daya iritablitas yang dimiliki pemerintah belum mampu merespon kebutuhan rakyat untuk melakukan sesuatu perubahan yang akan meningkatkan pelayanan kesehatan di Indonesia. Masih banyak masalah yang muncul walaupun pemerintah telah mencanangkan JKN. Masih banyak yang harus diperbaiki dalam birokrasi pelayanan kesehatan di Indonesia. Mungkin mereka hanyalah rakyat kecil yang tidak memiliki kekuasaan. Tetapi dengarkanlah suara mereka. Rakyat hanya berharap untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik tanpa harus membeda-bedakan strata sosial, ekonomi, ras, dan budaya. Selain itu, akses pelayanan kesehatan hingga biaya pengobatan juga harus dapat terjangkau diseluruh kalangan masyarakat Indonesia bahkan pengobatan gratis jika memungkinkan harus diberikan oleh pemerintah.

Solusi dalam masalah kesehatan Indonesia
Masalah kesehatan masyarakat yang begitu kompleks tidak boleh dibiarkan begitu saja. Kita harus serius dalam menangani masalah ini karena berkaitan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia. Kunci dalam masalah kesehatan selama ini adalah dengan meningkatkan kepedulian yang tinggi dan harus peka dengan kondisi kesehatan rakyat kemudian selesaikan masalah yang menyangkut dengan kepentingan masyarakat luas dan masalah yang masih berkesinambungan. Salah satu cara yang harus dilakukan adalah dengan perbaikan birokrasi kesehatan di Indonesia. Jajaran dan pimpinan Kementrian Kesehatan harus selalu memonitor segala birokrasi rumah sakit di Indonesia. Segala hal yang berkaitan dengan dana harus diperlihatkan dan dijelaskan dengan detail. Jalinlah suatu hubungan yang erat antara pihak Kementrian Kesehatan dengan pihak rumah sakit. Bukan itu saja, antar petugas kesehatan seperti dokter, perawat, dokter gigi, dan apoteker harus bisa berkolaborasi dengan baik di rumah sakit. Dengan menjalin sebuah keharmonisan, maka diharapkan dapat memperbaiki birokrasi yang sekarang ini. Selain itu, tingkatkan efisiensi manajemen rumah sakit sehingga tidak muncul kesalahpahaman di rumah sakit yang dapat merusak birokrasi. Solusi berikutnya dengan memaksimalkan pengobatan murah dan gratis. Pemerintah harus lebih gencar dalam menjalankan program JKN. Masih banyak rakyat miskin yang belum mendapatkan kartu JKN ini kemudian jangan persulit birokrasi rakyat kecil dalam memperoleh hak kesehatannya. Tidak membeda-bedakan antara pasien dengan kartu JKN maupun tidak. Semua harus dilakukan dengan seadil-adilnya. Pemerintah dapat membuat hukum yang lebih ketat dalam mengatur kesehatan di Indonesia. Dengan adanya hukum membuat pekerja di dalam instansi kesehatan lebih takut jika mereka melakukan penyelewengan. Meningkatkan lingkungan yang kondusif di rumah sakit juga membuat pelayan kesehatan bekerja lebih optimal sehingga dapat meningkatkan produktivitas pekerja yang berefek dengan mutu pelayanan kesehatan menjadi lebih baik. Dari masyarakat sendiri, harus diberikan sosialisasi dan penyuluhan yang edukatif di lingkungan setempat terkait dengan birokrasi kesehatan maupun sistem JKN di Indonesia. Pemerintah maupun pihak lainnya harus bersikap terbuka sehingga tidak memunculkan kesalahpahaman. Dengan begitu, masyarakat mengetahui alur-alur birokrasi kesehatan sehingga stigma masyarakat selama ini mengenai birokrasi kesehatan yang buruk dapat berubah.

Dengan banyaknya masalah kesehatan yang dihadapi Indonesia harus diseimbangkan dengan solusi yang diambil. Rasa kepedulian dan kepekaan harus ditingkatkan sehingga kita dapat mendengar suara-suara hati rakyat disana yang menjerit dengan kondisi kesehatan di Indonesia selama ini. Solusi diatas hanya sebagian kecil untuk mengatasi masalah kesehatan yang kompleks ini. Secercah harapan masih dapat kita gapai demi menuju Negara Indonesia sehat.


Referensi :
1. Kebijakan Kesehatan Naional. Arsip Diskusi Kebijakan Kesehatan April-Mei 2014. [internet].[cited 2014 Mei 10]. Available form : http://kebijakankesehatanindonesia.net/

2. Kebijakan Kesehatan Nasional. Pelayanan Kesehatan Nasional Tertinggal. [internet].[cited 2014 Mei 10]. Available form : http://kebijakankesehatanindonesia.net/component/content/article/73-berita/1918-pelayanan-kesehatan-indonesia-tertinggal.html

3. Pencerah Nusantara. Masih banyak masalah kesehatan di Indonesia. [internet].[cited 2014 Mei 10]. Available form : http://pencerahnusantara.org/profil-dokter/

4. Susanti, YS. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), antara harapan dan kenyataan. [internet].[cited 2014 Mei 10]. Available form : http://radarsukabumi.com/?p=100220

5. Manajemen pembiayaan kesehatan. Mekanisme Birokrasi Kesehatan Jawa Timur Dinilai lambat. [internet]. [cited 2014 Mei 10]. Available form : http://manajemen-jaminankesehatan.net/index.php/list-berita/675-mekanisme-birokrasi-kesehatan-jawa-timur-dinilai-lambat

6. Rachmaningtyas, A. Pemerintah jamin birokrasi tidak susahkan masyarakat.[internet].[cited 2014 Mei 10]. Available form : http://nasional.sindonews.com/read/2014/01/01/15/822674/pemerintah-jamin-birokrasi-tidak-susahkan-masyarakat

7. Pusat KPMAK. WAMENKES: Peningkatkan Akses Pelayanan Kesehatan. [internet]. [cited 2014 Mei 10]. Available form: http://www.kpmak-ugm.org/news/395-wamenkes-peningkatkan-akses-pelayanan-kesehatan.html

8. Andi F, Spain V. Keputusan Kasus Naila Menggambarkan Tingkat Kemanusiaan Bangsa Indonesia ke Dunia Internasional. [INTERNET].[Cited 2014 Mei 10]. Available form : http://birokrasi.kompasiana.com/2013/11/03/keputusan-kasus-naila-menggambarkan-tingkat-kemanusiaan-bangsa-indonesia-ke-dunia-internasional-606191.html

9. Harahap R. Belum semua rakyat miskin dapat jaminan kesehatan. [Internet].[cited 2014 Mei 10]. Available form : http://www.antaranews.com/suara-parlemen/berita/419963/belum-semua-rakyat-miskin-dapat-jaminan-kesehatan

10. Menpan. Membangun Kultur Birokrasi, Bukan Struktur. [internet].[cited 2014 Mei 11]. Available form : http://www.menpan.go.id/cerita-sukses-rb/2137-membangun-kultur-birokrasi-bukan-struktur

Thursday, August 7, 2014

Pertama dan Selalu yang Pertama!

Assalamualaykum Warahmatullahi Wabarakatuh


Sebenarnya bingung mau nulis apa. Blog ini sudah ada sejak lama. Tetapi, pemiliknya memiliki kesibukan yang tidak menentu dan akhirnya dapat melaunchingkan blog ini sekarang.

Tiba-tiba saja teringat kata dosenku Wahyu Sulistiadi, drg, MARS (Beliau adalah Ketua Sub Kelompok kerja Countuining Professional Development). Jujur, aku gak mengerti tentang jabatan beliau. Dokter Wahyu berkata: " Kan kalian sudah belajar banyak terutama tentang kesehatan, Berbagilah dengan dunia dan dokumentasikan tulisan kalian untuk menyehatkan kehidupan bangsa ini. Bahkan dengan tulisan kalian dapat memberikan dampak yang baik terhadap kemajuan kesehatan Indonesia." Kedengarannya sih klise. Tapi, yah aku mencoba untuk belajar menulis. Mana tau, tingkat kematian bayi menjadi menurun dan angka prevalensi penyakit mematikan di Indonesia menurun. 

An ordinary boy with ordinary face, ordinary intelligent, ordinary world, etc hehe ordinary boy who want to useful for everyone. Hermawan Pramudya adalah pemberian dari kedua orang tuaku, 19 tahun silam. SDN 060825, SMPN 3 Medan, SMAN 5 Medan, FK UI, dan … (?). Itu adalah segelincir tempat dimana aku menuntut ilmu. Dulunya sih, aku keterima di salah satu SMP terbaik di Bogor. Apa dayaku, aku lepas sih dengan sengaja. Jadi Fix ya, aku berasal dari Medan dan sekarang berdomisili di Depok dan sekitarnya. Aku mahasiswa kedokteran semester tiga dan merupakan salah satu alumni dari SMAN 5 Medan. Dulunya, pernah bimbel di Prosus Inten dan Sony Sugema College (SSC). Ganesha Operation (GO) sih kayaknya juga hahah. Alhamdulillah suatu kesempatan yang luar biasa dapat menuntut ilmu di FK UI. Walaupun ini bukan cita-cita ku sejak awal. Gak terjebak sih cuman terperangkap aja hehe.

Semasa sekolah, aku tidak terlalu suka berorganisasi bukan berarti aku anak yang kutu buku. Penglihatanku gitu-gitu aja soalnya. Palingan waktu SD, Aku menjabat sebagai ketua kelas selama 3 tahun. Waktu SMA juga menjadi ketua Perpustakaan Mushalla Seksi Kerohanian Islam (SKI) SMAN 5 Medan. Walaupun yahh gitu-gitu aja. Ketertarikan akan dunia matematika membuat kehidupanku selama 12 tahun ini lebih berwarna dibandingkan dengan teman-teman yang berorganisasi. Tetapi, sekarang aku sudah bercerai dengannya hiks walaupun dulu gagal ke OSN Semarang 2006 silam. huahau dan memutuskan diriku untuk selingkuh dengan Kebumian. Dunia geosains yang mulai membuka mataku untuk memahami dan mencintainya. Sulit sih rasanya. Tapi yaudah jalani saja. Yap. Gagal lagi dan nangis lagi. Gak jodoh berarti. OSN, IMSO, Pelatnas, IESO hanya mimpi kelam aja. Semoga nanti anakku bisa meneruskan cita-cita ayahnya yang gagal. 

Kehidupan SMP hanya kulalui begitu saja. Gak ada yang begitu menonjol. Tapi, disinilah aku mulai bertemu dengan orang-orang yang “keras” dan dilanjutkan dengan 3 tahun berikutnya. Rasanya ada waktu khusus nanti aku menuliskan autobiografiku. Panjang dan penuh dengan liku. Selama di SMA, aku bertemu dengan orang yang sama seperti SMP. Maklumlah kedua sekolah ini bertetangga dan hanya 1 km dari rumahku. Di sekolah yang tidak begitu luas ini aku bertemu dengan orang-orang yang cukup mampu untuk mengubah duniaku. Ceilehhh. Just so so. X-7, XI IPA 10, XII IPA 10 tempat aku “bermain” selama 3 tahun ini. Gak sengaja sih masuk ke kelas yang jumlah siswa lelaki hanya  7 orang dari 32 siswa. Lumayanlah wkw. Dulunya sih sering main ke kelas IPA 6 (kelas paling panas yang pernah ada). Sekedar bersilaturahmi =) 

KAYAKNYA sih sekolah itu mengajarkan aku akan perjuangan dan kehidupan. Yah agak lucu sih kedengarannya. Tapi yah begitulah mau diapain lagi. Berkat SMAN 5 Medan, aku bisa menginjakkan kaki ke FK UI. Berkat Allah SWT sih L Seandainya aku di SMAN 8 Jakarta yang katanya sekolah terbaik di Indonesia (di FKUI 2013 ada sekitar 30 dari 218 ) belum tentu aku bisa meraih apa yang telah aku raih sekarang. Semuanya sudah digariskan kok. Kita tinggal jalan dan menentukan pilihan jalan yang uda ditetapkan.

Hidup jauh dari keluarga bukan pilihanku. Kos 3x4 di Jln. Stasiun Pondok Cina Gg. Kedondong No.9A tempat dimana aku melepaskan lelah. Hanya 5 menit dari kampusku. Makanya sering telat datang. Sekarang sih aktif di dunia akademik aja sama yang lainlah. Masuk pagi, Pulang malam. Bolak-balik Salemba Depok (Menghabisakan hampir 2 jam PP). Magang sana, magang sini, tralala trilili. Ikut lomba sana, ikut lomba sini. Ahah sok sibuk kan jadinya. But, sekarang uda resmi sih jadi anggota PSDM FSI (Forum Studi Islam) FK UI. Yang lainnya tinggal menunggu gimana nasibnya kedepannya (read: LPP-Lembaga Penelitian dan Pengkajian dan MA-Media Aesculapius). Oiya aku aktif juga di UIAC (University of Indonesia Achievement Community). Gak sengaja sih masuk ke sini. Lagi-lagi gak sengaja. Tetapi senang aja =)

Uda berapa karakter ya? Kayaknya sampai disini dulu ya. Maaf kalau ada kata-kata yang salah. Masih dalam proses “belajar”. Maaf juga kalau jadinya curhat. Kalau ingin bertanya lebih lanjut dapat hubungi aku di nomor 08786801xxxx, @HermawanPramud (Twiter), Hermawan Pramudya (FB), Hermawanpramud (Instagram), Hermawan Pramudya (Path), hermawanpramudya (Line), alamat diatas, dan biasanya nongkrong di Mushalla Rumpun Ilmu Kesehatan (RIK) UI, Lantai 2 Gedung C.
Sekian dan Terima Kasih


Wassalamualaykum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ruang Komputer Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Utara, Indonesia