Pages

Monday, July 6, 2015

Half of Journey My Ramadhan: Merekat Bersama Kalian




… Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Imam Syafii

Aku merasa ditampar kalau berkali-kali membaca perkataan Imam Syafii tersebut. Kutipan yang aku ambil dari Buku Negeri 5 Menara karya A. Fuadi ini benar-benar nyata terjadi dalam hidupku. Ketika SMA, berkali-kali aku khatamkan buku ini bahkan sampai sekarang masih membekas. Ketika memutuskan merantau untuk meraih impian awalnya memang sulit. Tetapi, merantau bukan berarti (akan) kehilangan keluarga. Justru kamu akan mendapatkan keluarga baru, cerita baru, kisah baru, lingkungan baru, budaya baru, petualangan baru, dan lainnya yang serba baru. Merantaulah, agar engkau mengetahui betapa berharganya waktu bersama keluarga dan agar engkau tahu siapa yang engkau rindukan.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu. Begitulah waktu yang silih berganti pergi meninggalkan jejak. Tidak terasa sekarang sudah memasuki 17 Ramadhan 1436 H. Bulan yang kau sebut bulan yang penuh berkah ini hanya memberikan 29 atau 30 hari kepada manusia sebagai ajang “pertobatan”. Sekarang hanya menyisakan sekitar 13 hari lagi. Tidak sedikit meninggalkan kisah dalam perjalanan Ramadhanku tahun ini. Iya benar. Kisah bersama kalian. Orang-orang yang singgah di hidupku.

Malam Ramadhan pertama dihiasi dengan sholat tarawih di Mesjid Universitas Indonesia (MUI). Jama’ah yang ramai menemaniku dalam kesunyian saat itu. Tetesan air mata tak bisa terhindarkan dariku, saat aku harus menyadari bahwa Ramadhan pertama tahun ini tanpa keluarga di rumah. Iya, tanpa Papa dan Mama. Aku hanya bisa menitipkan doa agar mereka selalu dalam naungan Allah SWT. Mungkin ini terkesan cengeng dan manja. Tapi itulah dia hasil keoverprotectifan orang tuaku terhadap anak bungsunya. In shaa Allah ini menjadi awal belajarku untuk mandiri di tanah rantau.

Tarawih malam pertama Ramadhan 1436 H di MUI, Depok


Rabu, 17 Juni 2015 M / 1 Ramadhan 1436 H
Pukul 04.00, aku dan teman-teman madani bangun secara “terpaksa” karena harus menyantap makan sahur. Pastinya diselingi dengan rasa sedih. Makan sahur di Ramadhan pertama ini di warung dekat kontrakan daerah Barel. Makan dengan seadanya. Tanpa susu buatan Mama. Tanpa masakan Mama. Pikiranku melayang-layang ke Medan. Mungkin bagi teman-teman yang lain ini sudah biasa yang sejak sekolah dulu hidupnya di asrama. Tetapi, bagiku tidak. Selama 19 tahun ini, Ramadhan selalu aku habiskan bersama keluarga tanpa melewati sehari pun. Titik akhir dari ritual sahur pertama ini adalah meneteskan air mata (lagi). Bukan karena sedih tanpa keluarga di rumah, tetapi karena aku masih diberi kesempatan untuk menyantap sahur di 1 Ramadhan 1436 H. Banyak hikmah yanga aku dapatkan dari makan sahur ini setelah aku memflashhback beberapa Ramadhan silamku. Usai sahur dan melaksanakan ibadah sholat subuh dengan syahdunya, masih saja aku dan teman-teman menyibukkan diri dengan hal duniawi. APA? Are you ready? Karena pada hari ini juga kami melaksanakan suatu “ibadah” yaitu ujian Objective Structure Clinical Examination (OSCE). Beragam pikiran terlintas di kepala dan kalian tahu ini cukup mengganggu kualitas ibadahku di hari pertama Ramadhan. Beriring doa selalu kami limpahkan kepada Allah agar diberi kemudahan dalam melaksanankan ujian OSCE pada hari itu. Alhamdulillah ya. Lupa cuci tangan di station antopometri. Kya kya. Yasudahlah, Allah benar-benar memberikan kemudahan kepadaku dan teman-teman lainnya. Alhamdulillah 100% angkatan lulus.
   
Ifthar bareng Faris yang lahap menyantap hidangan berbuka puasa di warung makan Barel, Depok
Makanan berbuka puasa di hari pertama Ramadhan

Hari pertama Ramadhan berhasil aku lewati dengan segala kesendirian. Ini menjadi cikal bakal aku untuk survive 10 hari kedepan selama Ramadhan di Depok. Hari-hari aku lewati bersama teman-teman Madani yang aku sayangi. Aji, Fadhian, Fadhil, Faris, Irfan, Reza Haryo, walaupun Haryo jarang di Pondok Madani. Terkadang diselingi dengan hadirnya Flora Normal Madani. Sebut saja Kamal, Fahril, Yuke, Awang, Waznan, Dedy, Ardi, Ilham dan lainnya. Mereka-mereka ini yang menjadikan aku semangat untuk melewati bulan penuh berkah tahun ini, yang selalu mengingatkan aku. Sahur dilewati bersama mereka, buka puasa dilewati bersama mereka, dan sholat tarawih dilewati bersama mereka juga. Tidak lupa juga ada program safari Ramadhan dan aku hanya berkesempatan untuk ikut ke Mesjid Dian Al Mahri (Kubah Emas) Depok. Uniknya, di mesjid ini, imam selalu meminta kepada jama’ah untuk mendoakan pendiri mesjid ini yaitu H. Maimun Al Rasyid dan Hj. Dian Juriah Maimun Al Rasyid, pengusaha dermawan asal Banten. Aku pun memutuskan untuk sholat tarawih di MUI bersama Ilham. Syukurnya masih sempat. Gak tau kenapa hati ini sudah terpikat dengan MUI.


 
Kami sekeluarga mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadahn 1436 H
Mesjid Dian Al Mahri (Kubah Emas), Depok

Ramadhan kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh. Semuanya aku lewati bersama kalian. Pada Ramadhan ketiga, buka puasa bersama Keluarga Dokter Muslim (KDM) Madani pun tidak bisa aku elakkan. KDM yang merupakan suatu wadah dimana muslim angkatan FKUI untuk tumbuh dan berkembang menjadi dokter muslim. Bersyukur bisa hadir di tengah-tengah keluarga ini. Setidaknya, canda dan tawa bersama mereka mengobati Ramadhanku. Beberapa hari berikutnya adalah buka bareng PSDM-ers, sang pembina muslim FKUI. Walaupun hanya dihadiri Faris, kak Cholis, Nindi, Ummul, dan saya beserta sahabat PSDM yaitu Aji sebagai juru foto. Tapi tidak masalah. Dapat dikatakan cukuplah daripada tidak sama sekali. Alhamdulillah diberi kesempatan berkumpul untuk meraih berkahMu bersama kalian-kalian semua. Dari dua buka bersama tersebut sebenarnya aku menghasilkan beberapa refleksi buat kita semua. Selama ini, buka bersama menjadi salah satu ajang untuk “silaturahim” kepada teman-teman tetapi tidak mengindahkan beberapa hal. Diantaranya buka bersama menjadikannya sebagai faktor risiko untuk hidup boros, sholat magrib telat bahkan bolos untuk sholat tarawih. Coba kita pikirkan lagi baik-baik tujuan awal kita untuk buka bersama itu apa. Bisa buat referensi buka bersama diawali dengan tilawah dahulu, ceramah, kemudian ifthar, sholat magrib ke mesjid dan sholat isya serta tarawih jama’ah. Itulah ajang silaturahim dengan ukhuwah sesungguhnya. Jadi yang didapat tidak hanya jepretan foto yang diupload ke instagram serta media sosial lainnya. Ramadhan ini diajarkan untuk lebih peka dengan kehidupan sosial sekitar. Banyak disana yang makanan berbukanya hanya seteguk air saja. Berbagilah :)

Ifthar bareng Keluarga Dokter Muslim (KDM) Madani 2015 di Ruang Akuarium FKM UI, RIK UI, Depok
Ifthar bareng PSDM di Foodcourt Margo City, Depok
Berbagilah Kawan


Pada ramadhan ketujuh, 24 Juni 2015 M, tepatnya waktu dini hari aku bersama geng pesona depok berangkat ke pesona depok untuk melingkar. Mendekatkan kembali hati-hati kami yang mungkin uda mulai retak. Suatu hal yang sangat luar biasa diberi kesempatan untuk liqo waktu dini hari. Benar-benar syahdu walaupun diselingi dengan rasa kantuk yang teramat dalam. Dilanjuti dengan sahur bersama di rumah sang murobbi. Membuat makan sahur kala itu lebih berkesan dari makan sahur sebelumnya. You know lah. Setelah ritual mingguan tersebut selesai, kami langsung ke Pondok Madani untuk membersihkan rumah yang telah kami zalimi selama ujian melanda. Sampai beberapa jam hingga akhirnya rumah menjadi lebih berseri. Hati pun menjadi senang.

Jum’at, 26 Juni 2015 / 10 Ramadhan 1436 H
Tiba waktunya, satu hari sebelum kepulanganku ke Medan. Jum’at,  26 Juni 2015 / 10 Ramadhan 1436 H tidak menjadi sekedar wacana. Betapa senangnya hatiku ketika ibunya Fadhian membelikan baju koko warna biru yang seragam kepada kami berenam. Serasa anak dari suatu panti asuhan tertentu. Kami pun siap untuk beraksi. Bersama satu rombongan Pondok Madani sholat di Mesjid At-Tiin dan menginap di rumah Haryo. Sebelumnya berbuka puasa di warungnya Haryo juga dan bertemu dengan pa’le-pa’lenya haryo dan bibi-bibinya haryo. Terlalu banyak pa’le haryo disini. Mungkin mencapai puluhan. Banyak rasa yang aku rasakan disini. Bukan rasa ayam penyet tapi rasa apa ya hmm. Rasa memiliki saudara mukmin yang dihadiahi oleh Allah kepadaku. Alhamdulillah bisa merasakan nikmat tersebut. Banyak moment yang kami lewati bersama pada malam itu dengan tarawih dan ngobrol yang gak jelas hingga diakhiri dengan foto keluarga dengan 7 orang full team ba’da subuh. Akhirnya tercapai. Tunggu saja rilisnya. 
Irfan, Mawan, Fadhil, Fadhian, Faris, Haryo, Aji di Mesjid At-Tiin, Jakarta

Sabtu, 27 Januari 2015 M / 11 Ramadhan 1436 H
Kini tiba saatnya, kita kan berpisah. Lagu yang terngiang waktu perpisahan zaman Sekolah Dasar (SD). Tepat hari ini, aku pamit untuk balik ke kampung halaman. Sebenarnya gak kampung juga sih, Kota Medan. Akhirnya, aku bertemu dengan kalian keluargaku di rumah, saudara-saudara, dan tetangga yang telah aku tinggalkan beberapa bulan. Rasanya beda banget karena semester sebelumnya aku hanya 4 hari saja di Medan. Aku terbang mengangkasa dengan Garuda Indonesia bersama Astri Salatin teman SMA ku. Sayangnya pas Ramadhan, jadi makanan di pesawat gak bisa dimakan. Untung saja sekarang ada jasa bungkus makanan. Tidak terasa mengudara selama dua jam akhirnya aku menapakkan kaki ini di tanah kelahiranku. Terlihat lambaian tangan mama. Ahhhh rindunya wahai Bunda. Disepanjang perjalanan 40 menit aku habiskan kuota rinduku dengan bercengkerama di mobil. Kota Medan yang usang kenapa engkau begitu berbeda. Sudah banyak berubah kota yang terkenal dengan “keras”nya. Walaupun tidak sempat berbuka puasa di rumah tetapi tidak masalah. Sambutan hangat mereka membuatku semangat untuk mengejar target yang telah aku impikan 11 bulan sebelumnya.

Ramadhan kedua belas, ketiga belas, keempat belas, kelima belas, keenam belas, dan ketujuh belas. Sebagian besar aku habiskan dirumah. Akhirnya bisa menikmati santapan sahur buatan mama, susu buatan mama, dan kehangatan keluarga. Tidak lupa Mesjid Al-Utamaniyah yang aku rindukan, yang menjadi saksi kenakalan aku saat masa kecil. Di Medan, aku diberi kesempatan untuk bersilaturahim dengan delegasi-delegasi Indonesia International (Bio)Medical Students' Congress (INAMSC). Dengan sambutan rintik-rintik hujan menambah keberkahan sore itu. Aku sempatkan untuk buka bersama di Angkring Yogyakarta (tidak terlalu jauh dari lokasi jatuhnya pesawat hercules di Jamin Ginting Medan) walaupun tanpa kehadiran Ramlan Pulungan FK USU 2013 (Mapres III USU 2015). Gak papa, gak masalah. Usai itu, kami akhiri dengan sholat jama’ah di Mesjid Dakwah USU dan pulang ke rumah serta kosan masing-masing. Good luck buat segala aktivitas kalian.
Mawan beserta delegasi INAMSC (Kak Ummah, Kak Dyan, dan Kak Ayu) di Angkriang Yogyakarta, Jamin Ginting Medan
Sekarang????!! Sudah 17 Ramadhan. Sudah tinggal berapa halaman lagi tilawahnya, sudah berapa sholat malam yang engkau tinggalkan. Sadarkah kawan, Ramadhan sudah setengah jalan. Sudahkah engkau meminta magfhirahNya? Janganlah engkau sia-siakan Ramadhan ini. Janganlau engkau membuatnya menangis. Jangan pernah engkau salahkan jika tahun depan Allah tidak memberikan kesempatan untuk  mencium wanginya Ramadhan tahun depan. Ayo upgrade diri kita masing-masing karena tantangan sesungguhnya bukanlah 29 atau 30 hari Ramadhan melainkan 11 bulan kedepan. Bagaimana output 11 bulan kedepan? Oleh karena itu, kita dididik selama 29 atau 30 hari yang tidak lama ini akan berakhir.
Semangat Kawan


Sabtu, 4 Juli 2015 M / 17 Ramadhan 1436 H

Kamar yang telah lama ditinggalkan
Rumah tercinta, Jln. Utama Gg. Tengah III No 15, Medan

No comments:

Post a Comment