Pages

Friday, July 17, 2015

Hari yang Paling Menyedihkan Sedunia

Kau tahu hari yang paling menyedihan sedunia itu apa?
Pagi itu aku tersadarkan dari mimpiku yang panjang
Melihat kenyataan detik demi detik setiap hembusan nafasku
Menatap langit subuh yang tak kunjung menampakkan wajah senyumnya
Melepas kepergian Ramadhan dari singgasananya

Kau tahu hari yang paling menyedihan sedunia itu apa?
Ada yang berbeda dari subuh kala itu, benar-benar ada yang beda. Ada yang mengganjal di hati
Aku gak tahu kenapa hatiku sebegitunya terpikat denganmu. Aku gak tahu kenapa
Padahal kita hanya bersama-sama sekitar 30 hari saja. Waktu yang sangat cepat bukan untuk saling mengenal satu sama lain
Tapi, ini beda karena kamu istimewa diantara mereka-mereka

Kau tahu hari yang paling menyedihan sedunia itu apa?
Apakah aku termasuk orang yang beruntung? Orang-orang yang merasakan kesedihan yang paling menyedihkan yang pernah ada
Hari inilah, hari yang paling menyedihkan sedunia. Kau tahu itu.
Aku tahu semuanya itu adalah permainan waktu hingga aku tak menyadarkan bahwa Ramadhan sudah pergi
Tidak usahlah bermain hati dan bermain kata karena nyatanya Ramadhan benar-benar sudah pergi
Pergi selama sebelas bulan kedepan menemani waktu-waktu yang fana

Kau tahu hari yang paling menyedihan sedunia itu apa?
Tidak ada subuh-subuh indah itu, tidak ada tarawih-tarawih indah itu, tidak ada malam-malam indah itu
Semua sudah sirna hanya meninggalkan berkas pelajaran yang begitu berarti
Aku tahu ini merupakan fase tersulit dalam setiap pembelajaran
Bagaimana sebelas bulan kedepan aku bisa hidup lebih mandiri tanpamu
Bagaimana sebelas bulan kedepan aku bisa memberikan yang terbaik buatmu
Bagaimana sebelas bulan kedepan aku bisa benar-benar merasakan bulan Ramadhan seterusnya
Walaupun aku tahu kau benar-benar sudah pergi jauh kesana, tidak tahu pergi kemana

Kau tahu hari yang paling menyedihan sedunia itu apa?
Hari ini, hari yang katanya semua orang seperti dilahirkan kembali. Bersorak gembira yang katanya hari kemenangan.
Hingga tetesan air mata yang terakhir, aku benar-benar meminta doa kepada Rabbku, permintaan terindah dari hatiku
Maafkan bila aku belum bisa memberikan yang terbaik, Maafkan bila aku belum maksimal ibadahku
Maafkan bila aku masih berkecimpung dengan dunia-dunia ini. Maafkan bila aku masih menduakanmu
Maafkan bila aku masih membuatmu cemburu. Maafkan aku maafkan aku maafkan aku bila masih banyak menyia-nyiakanmu
Aku tahu sesuatu yang berharga akan terasa berharga ketika perpisahan telah menjemput
Pertemukanlah lagi diriku ini, keluargaku, sahabat-sahabatku, teman-temanku, semua kaum muslimin sedunia denganmu. Pertemukanlah kami dengan pertemuan indahmu. Pertemukan kami dengan pertemuan terbaikmu
Hingga akhirnya semua menjawab, bahwa kelak kita akan bertemu di surgaNya Allah. Untukmu yang spesial di hidupku, Ramadhan. Selamat memasuki bulan Syawal, Selamat beridul fitri J

Ba’da subuh, Jum’at, 17 Juli 2015 / 1 Syawal 1436 H
Rumah tercinta, Medan

Thursday, July 16, 2015

Sebuah Harapan; ingin Menjadi Imam Tarawih Tahun Depan


Rabu, 15 Juli 2015 / 29 Ramadhan 1436 H

Malam itu aku terhempas dari tempat tidur karena adzan isya akan berkumandang. Kulihat jarum jam menunjukkan pukul 19.40 WIB. Betapa bersalahnya aku terlelap usai memakan hidangan berbuka buatan spesial mamaku. Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Berharap masih bisa mengejar sholat isya jama’ah. Ada yang spesial dengan malam ini karena malam ini merupakan tarawih terakhir di 1436 H. Aku pun mempersiapkan pakaian terbaikku. Dalam hitungan jam, dia akan pergi. Meninggalkanku untuk hidup mandiri selama 11 bulan kedepan.
Tidak ada lagi tarawih-tarawih indah itu.

Ramadhan yang begitu berbeda dari tahun sebelumnya ini akan segera pergi meninggalkanku. Meninggalkanku dengan segala ketidakmaksimalan ibadahku. Masih aja aku mengecewakanmu wahai Ramadhan. Apa boleh buat aku hanya manusia biasa yang memang lagi berusaha untuk bisa hidup melekat denganmu hingga di bulan-bulan berikutnya. Sepuluh hari awal ramadhan aku habiskan di Depok menghasilkan sedikit cerita. Ini berarti aku tidak full melaksanakan sholat tarawih di Mesjid Al-Utamaniyah, Mesjid sederhana di dekat rumahku. Tidak banyak perbedaan antara aku sholat tarawih di Depok dan di Medan. Yang membedakan hanya jumlah rakaat dan ceramahnya saja. Overall, itu tidak jadi masalah. Tetapi, satu hal yang paling aku rindukan selama 4 tahun terakhir ramadhan ini adalah melaksanakan sholat tarawih satu malam satu juz. Betapa luar biasanya pihak Mesjid Al-Utamaniyah yang setiap malamnya mendatangkan Hafiz Quran yang masih muda-muda. Setiap malamnya itu aku serasa dicambuk oleh lantunan ayat-ayat yang mereka bacakan dengan fasih. Ada bang Akmal, bang Taufiq, dan lainnya (Mereka tidak mau dipanggil ustadz). Usia mereka hanya sekitar 20-30 tahun. Tidak jauh berbeda denganku yang tahun ini akan memasuki usia 20 tahun juga. Tapi, mereka sudah mampu menghafal luar kepala kitab suci 600-an halaman itu. Sedangkan aku? Sudah terjawab semunya. Memang tahun ini ada beberapa target yang telah aku rancang. Salah satunya adalah menambah hafalanku sebanyak-banyaknya, mengembalikan hafalanku yang telah hilang sejak di madrasah bertahun-tahun lamanya (Aku pernah di madrasah 4 tahun waktu SD). Rasanya, selama ini aku merasa bersalah karena menzalimi al-quran dengan ilmu-ilmu dunia. Melalui ramadhan ini menjadi momentumku untuk jauh lebih dekat dalam menelaah kalam Allah.

Setiap malamnya, aku berdiri kurang lebih 2 jam. Bukan hanya kakiku saja yang bergetar, tetapi hati ini juga bergetar ketika dibelakang imam muda yang hafiz membacakan ayat demi ayat yang sama sekali aku gak mengerti artinya. Tetapi, energinya merasuk ke dalam jiwaku. Benar-benar merasuk ketika energi yang terkumpul di dalam mesjid kecil ini masuk ke dalam jiwaku. Hingga akhirnya aku sempat meneteskan air mata. Betapa bahagianya kedua orang tuanya karena anak kebangaannya telah berhasil memberikan mahkota terindah buatnya. Aku terus dan terus berpikir. Kapan ya Allah pilih aku untuk menerima anugerah terindah itu? Tidak ada yang tidak mungkin.

Aku memang tidak pernah berstatus “santri” dan tidak pernah mondok sama sekali. Tapi apa bedanya dengan mereka, dengan teman-temanku yang hafalannya sudah segudang? Tidak ada yang berbeda kawan, hanya niat dan usaha yang harus diperhatikan.  Dan melalui Ramadhan ini aku mengumpulkan niat sebannyak-banyaknya sebagai amunisiku selama 11 bulan kedepan. Terkadang aku malu melihat hafiz-hafiz/ah cilik yang berusia belia. Betapa beruntungnya mereka bisa dibesarkan di keluarga Qurani. Betapa beruntungnya mereka bisa benar-benar “memanfaatkan” usia muda mereka. Beberapa kali aku sempatkan juga untuk membaca kisah-kisah penghafal al-quran dan video-video yang diberikan oleh Faris JU salah satunya. Aku benar-benar tercambuk dengan semua itu. Benar-benar berpikir 20 tahun ini aku ngapain aja ya di dunia. Mungkin, ibadah sholat tarawih ini menjadi pengingat buatku bahwasanya kenapa kita harus menghafal al-quran. In shaa Allah, Allah masih memberikan 20 tahun lagi untuk memperbaiki 20 tahun sebelumnya dan aku gak akan membiarkan waktu itu terbuang sia-sia.

Pelajaran yang bisa aku ambil dari 29 hari lamanya begitu banyak. Pelajaran yang bisa aku ambil adalah pelajaran. Iya pelajaran untuk belajar dan belajar tanpa lelah. Karena pada hakikatnya, kita adalah manusia sang pembelajar. Jangan pernah lelah untuk belajar terutama mempelajari Al-quran. Lupakan tahun-tahun sebelummu. Ambil hikmah dan pelajaran. Jangan dijadikan hambatanmu untuk maju ke depan. Jadikan orang-orang yang kamu anggap sukses sebagai motivasi terhebatmu. Jangan jadikan mereka sebagai ladang iri hati yang hanya menodai hati ini. Aku akan bertekad untuk hal ini. Benar-benar bertekad. Aku gak mau main-main lagi dan terlalu menyia-nyiakan umurku dengan ilmu dunia. Dan ini merupakan salah satu bagian dariku untuk memantaskan diri. Bismillahirrahmanirrahim, setidaknya minimal aku harus uda punya hafalan seperempat Al-quran sebelum menikah. In shaa Allah. Doain ya kawan.


Tetapi, ada lagi sebuah harapan yang telah aku rindukan sejak empat tahun lamanya yaitu menjadi imam sholat tarawih di mesjid kecil yang sederhana di Jln. Utama Gg. Haji Syukur, Medan, Mesjid Al-Utamaniyah. Aku masih punya waktu 11 bulan lamanya. Semoga Allah masih memberikan kesempatan untuk hadir bersama-sama di bulan Ramadhan tahun depan dan seterusnya. Semoga ini tidakhanya menjadi sebuah harapan yang tersimpan rapi dalam memori usang bertahun-tahun lamanya. Hamasah. 



Ya Allah, dengan Al-quran karuniakanlah kasih sayangMu kepada hamba. Jadikan Al-quran sebagai imam, cahaya, hidayah, dan sumber rahmat bagi hamba. Ya Allah, ingatkanlah hamba jika ada ayat yang hamba lupa mengingatnya. Ajarkan kepada hamba ayat yang hamba bodoh memahaminya. Karuniakan kepada hamba kenikmatan membacanya sepanjang waktu, baik tengah malam maupun tengah hari. Jadikan Al-quran bagi hamba sebagai hujah, Ya Rabbal ‘Alamin.



Di penghujung Ramadhan, Rabu, 15 Juli 2015 M / 29 Ramadhan 1436 H

Di pojok kursi ruang tamu, Medan, Sumatera Utara

Monday, July 13, 2015

Kamu adalah Bidadari yang Berjilbab Panjang Itu


Dengan kepasrahanmu yang teguh
Dengan segala kesucianmu yang telah kau jaga
Dengan ikthiarmu untuk menemukan jalan suciNya
Dengan karunia Allah engkau menjadi seperti ini

Perlu kau ketahui bahwa hal yang terindah menjadi perempuan
Bukan karena kecantikanmu
Bukan karena senyum bahagiamu
Dan bukan karena pesona dengan keelokan tubuhmu
Tetapi,
Ketika butiran air matanya jatuh saat sujud dihadapanMu
Sujud yang tak pernah lelah kau lakukan setiap malam
Untuk meminta siapa yang layak menjadi imamu kelak.
Aku? Yang akan membawaku ke Syurga. Tidak ada yang mengetahuinya

Keteguhan imanmu yang membuat aku merasa malu
Malu dengan segala pemantasan diriku yang tak berujung juga
Engkau adalah permata hati yang dirindukan setiap orang
Bahkan Bidadari pun sanggup untuk cemburu padamu

Di taman syurga dengan mata air yang menenangkan jiwa setiap insan
Dengan balutan sutera yang tebal dan indah disertai jilbab panjangmu
Duduk berhadapan memandang mata indahmu laksana mutiara yang tersimpan indah
Bersyukurlah menjadi lelaki yang bertakwa. Bersyukurlah kawan
Ya Tuhan, Jodohkanlah aku dengannya, dengan bidadari bermata jelita itu

Dengan sholatmu, puasamu, dan ibadahmu kepada Allah
Allah meletakkan cahaya disekujur tubuhmu, mencahayai setiap sudut alam semesta
Kain sutera yang menutupi kulit putihmu yang tak mengizinkan aku untuk melihatnya
Semuanya begitu berharga karena kau jaga. Benar-benar kau jaga!
Berbahagailah lelaki yang memilikimu dan kamu juga
Bahagia dengan lelaki yang pantas denganmu

Sungguh betapa mulianya wanita muslimah yang kaffah diin islami
Betapa mulianya wanita muslimah yang menjaga keimanan dan ketakwaannya
Betapa mulianya wanita muslimah yang selalu menjaga ibadah dan akhlaknya
Disaat gemerlap dunia hampir di kehidupanmu
Engkau tetap teguh mempertahankan kehormatanmu
Engkau tetap sabar dikala ujian datang menghadangmu
Engkau tetap sabar dikala hinaan dan celaan menghadangmu
Engkau tetap memberikan kebaikan disetiap langkah dan perbuatanmu
Seandainya mereka pada tahu kalau bidadari cemburu padamu

Engkaulah wanita sholeha, perhiasan terbaik dunia
Yang melekatkan keimanannya menyeluruh di dalam dirimu
Yang meletakkan keislamannya menyeluruh di dalam dirimu
Pantaslah, engkau menjadi penyejuk mata bagi setiap orang
Pantaslah, bidadari cemburu pada padamu

Berbahagialah lelaki yang mata dan hatinya terbuka oleh perempuan sepertimu
Berbahagialah kalian kawan
Berbahagialah kalian kawan
Berbahagialah kalian kawan karena kalian masih ada kesempatan untuk menjadi orang yang bertakwa

Lantas apakah kau tinggal diam
Apakah kau tetap mengumbar apa yang tidak pantas
Buatlah dirimu hingga bidadari cemburu padamu
Buatlah hingga aku meneteskan air mata melihat keimananmu yang luar biasa
Buatlah hingga aku selalu berusaha untuk selalu memantaskan diri
Buatlah aku untuk terus menjadi lelaki yang benar-benar bertakwa

Aku akan selalu terus berdoa
Terus berdoa disetiap sujudku
Hingga Allah membuka pintu hatimu
Agar Kau benar-benar melekatkan jilbab panjangmu, Melekat tanpa hinggap sesaat
Hingga akhirnya aku siap, suatu saat nanti
Berdiri bersama denganmu dengan janji ikatan yang suci



Teruntuk perempuan yang sedang istiqomah menjulurkan jilbab panjangnya.
Tetaplah berjalan sampai tiba waktunya. Tetaplah belajar tanpa ada kata lelah. Semoga Allah selalu melindungi disetiap langkah kalian ^-^


Medan, Senin, 13 Juli 2015 / 26 Ramadhan 1436 H; Menanti adzan ashar tiba

Friday, July 10, 2015

Potensi Pemanfaatan Kurkumin Pada Curcuma Longa Sebagai Multiple Agent (Antiinflamasi, Neuroprotektor, dan Antioksidan): Inovasi Terapi Adjuvan pada Pasien Kusta

 Hermawan Pramudya
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Kusta merupakan penyakit tropis di Indonesia karena infeksi Mycobacterium lepra.(1,2) Penyakit ini menyerang kulit dan sistem imun manusia. Jika dibiarkan dapat menginvasi mukosa saluran pencernaan atas, mata, dan sistem saraf perifer yang dapat berujung dengan kecacatan dan kematian. Data yang dicatat oleh World Health Organization (WHO), didapat angka dari 115 negara di dunia bahwa prevalensi kusta mencapai 189.018 kasus pada akhir 2012 dan selama setahun yang sama terdata 232.857 kasus baru. (2) Ternyata angka ini meningkat dari tahun 2011 yaitu 226.626 kasus. Stastistik global juga mencatat sekitar 95% kasus kusta yang baru berasal dari 16 negara dengan prevalensi kusta tertinggi di dunia termasuk Indonesia.2 Sisanya 5% berasal dari negara lainnya. Hal ini membuat kusta bukan hanya menjadi masalah kesehatan di Indonesia saja tetapi juga menjadi masalah kesehatan dunia. Kusta banyak diderita oleh masyarakat di negara berkembang seperti Bangladesh, China, Nigeria, Sri Lanka, Brazil, Tanzania, India, Ethiopia, Kongo, Filipina, Madagaskar, Myanmar, Nepal, dan Indonesia. Ternyata, Indonesia berada di posisi tiga besar dibawah Brazil dan India sebagai negara dengan penderita kusta terbanyak di dunia yakni mencapai 20.023 penderita kusta di Indonesia, sedangkan di Brazil sebanyak 33.955 penderita dan di India mencapai 127.295 penderita kusta.2,3 Tidak tahu, apakah ini merupakan suatu hal yang harus dibanggakan atau tidak? Indonesia menjadi terkenal sebagai ladang kusta di dunia dengan prevalensi 8,3 dari 100.000 penduduk membuat masalah kusta menjadi masalah kesehatan serius di negeri kita tercinta.(3)
 
Kusta: Penyakit Tropis yang Sangat Kompleks 
Seperti yang telah dijelaskan diatas, kusta atau lebih akrab dipanggil lepra adalah salah satu penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae, mikroorganisme yang menyerang kulit, sistem imun, dan sistem saraf perifer pada manusia.(4,5) Penyakit ini berbentuk granulomatosa kronik yang juga dapat menyerang saluran pernapasan atas dan mata.(5) Rute masuknya Mycobacterium leprae ke dalam tubuh manusia masih belum dapat diketahui secara definitif. Penelitian yang pernah dilakukan, mengungkapkan bahwa rute pernapasan merupakan saluran yang cukup memungkinkan masuknya Mycobacterium leprae ke dalam tubuh manusia selain melalui kulit.(5) Ini dibuktikan dengan ditemuinya jumlah basil dari lesi mukosa hidung di kusta berkisar 10.000-10.000.000 pada pasien kusta.(5) Kulit dan mukosa hidung menjadi dua pintu keluar dari tubuh manusia yang dilalui oleh Mycobacterium leprae.(5) Berdasarkan tinjauan klinis imunologi dan bakteriologi, penyakit kusta diklasifikasikan menjadi beberapa tipe yaitu6 Tuberculoid (TL) yaitu kusta dengan lesi terlokalisasi di kulit dan saraf tepi serta diagnosis dilakukan dengan teknik biopsi kulit, Lepromatous (LL) yaitu lesi ditemukan di kulit, membran mukosa saluran pernapasan atas, sistem retikuloendotel, kelenjar adrenal, dan testis, Borderline atau Dimorphic (BL) yaitu kusta yang memiliki lesi seperti makula dan plak.(6)

Patogenesis dan Patofisiologi Lepra dalam Merusak Tubuh Manusia
Target utama dari infeksi Mycobacterium leprae adalah sel schwann pada manusia. Ini akan mengakibatkan cedera saraf perifer, cacat yang konsekuen, dan demielinaasi pada sistem saraf. Demielinisasi dan hilangnya konduktansi aksonal terjadi karena pengikatan Mycobacterium leprae pada sel schwann. Sistem saraf perifer yang diserang oleh bakteri ini dapat mengakibatkan kelemahan otot, atrofi otot, nyeri neuritik parah, dan kontraktur pada ekstrimitas atas serta bawah.(7,8) Pergeseran pada status kekebalan tubuh pasien merupakan interpretasi dari reaksi kusta. Fagositosis Mycobacterium leprae oleh makrofag monosit yang diturunkan dapat dimediasi oleh reseptor komplemen CRI (CD35), CR3 (CD11b/CD18), dan CR4 (CD11c/CD18), serta diatur oleh protein kinase.(8) Nonresponsifitas sistem imun terhadap Mycobacterium leprae juga berkorelasi denga hadirnya sitokin T helper 2 dalam sistem kekebalan tubuh manusia.(6) Mycobacterium leprae dikategorikan sebagai bakteri gram positif dengan komponen dinding sel yang berisi lipid dan glikolipid. Bakteri ini dikenal memiliki struktur virulensi yang cukup tinggi. Pada struktur tersebut, banyak ditemukan antigen peanolik glikolipid 1 (PGL-1) yang berperan aktif dalam demielinasi saraf perifer khususnya sel schwann. Di samping itu, juga ditemukan molekul-molekul proinflamasi seperti Tumor Necrosis Factor (TNF), IL-1β, dan interferon-γ yang dapat berpengaruh terhadap kerusakan jaringan karena inflamasi dan menginduksi apoptosis sel schwann.(9) Mycobacterium leprae juga hidup dan berkembang biak dalam sel endotel dan sel fagosit di berbagai organ tubuh manusia. Respon imun terhadap Mycobacterium leprae dapat dikategorikan menjadi tiga reaksi yaitu (6) reaksi kusta tipe 1 (downgrading and reversal reactions) dengan manifestasi demam ringan, lesi kulit makulopapular, neuritis, nyeri sepanjang saraf yang terinvasi Mycobacterium leprae dan disertai hilangnya fungsi, reaksi kusta tipe 2 (erythema nodosum leprosum) dengan manifestasi nodus eritematosa yang merupakan peradangan masif disertai lesi, dan yang ketiga adalah reaksi lucio dengan manifestasi plak eritematosa tidak teratur, ulserasi besar, poligonal dan mengelupasnya kulit pada kaki. Reaksi kusta merupakan bagian inflamasi akut yang secara klinis terjadi selama penyakit kusta kronik. Hal ini menjadi masalah yang kompleks karena dapat meningkatkan morbiditas akibat kerusakan saraf. Reaksi-reaksi tersebut ditandai dengan (7) edema pada tangan, kaki, dan wajah, eritema lesi kulit yang terlihat, pembentukan lesi kulit yang baru, neuritis, kerusakan saraf motorik dan sensorik. Tanda-tanda lain yang dapat muncul adalah6 munculnya nodul subkutan yang terletak di kulit normal, pembesaran kelenjar getah bening, anoreksia, dan penurunan berat badan secara drastis. Kehadiran sitokin inflamasi yang tinggi seperti TNFα, IL-6, dan IL-1β dalam serum pasien menunjukkan bahwa sitokin inflamasi pleitoprik setidaknya berperan dalam manifestasi klinis penyakit kusta.(5,7)

Curcumin Longa: Potensi Obat Herbal bagi Pasien Kusta
Kunyit digunakan sebagai obat tradisional sejak zaman dahulu kala. Hal ini membuktikan bahwa kunyit telah terbukti memiliki potensi sebagai obat. Penyakit seperti diabetes, anoreksia, penyakit hepar, sinusitis, dan penyakit imun dapat diatasi dengan kunyit.(10) Perannya sebagai antiinflamasi membuat kunyit memiliki potensi yang baik bagi pasien kusta sebagai terapi adjuvan pada multidrug therapy (MDT). Kunyit secara umum aman digunakan dalam pengobatan, kontraindikasi yang didapatkan hanyalah reaksi alergi pada kulit bagi pasien yang memiliki alergi pada komponen kunyit, iritasi lambung, kembung perut, nausea, dan diare. Selain itu, kunyit juga bersifat nontoksik yang memiliki efek alternatif yang sangat baik dalam golongan obat tradisional. Tanaman tradisional ini dikenal sebagai multiple agent karena memiliki fungsi yang sangat banyak dan kompleks. Diantaranya adalah kunyit sebagai obat antiinflamasi, neuroprotektor, menghambat luka, penyembuhan luka, diabetes, penyakit alzheimer, menghambat replikasi HIV, zat immunosupresive, obat penyakit kardiovaskular, paru-paru, nefrotoksitis, katarak, dan kemoterapi.(10,11)

Curcumin Longa sebagai Zat Antiinflamasi bagi Pasien Kusta
Kunyit berperan dalam inflamasi pada penyakit kusta dengan menurunkan tingkatan histamin serta dapat meningkatkan produksi kortison alami oleh kelenjar adrenal. Pemberian secara oral pada penderita inflamasi akut sama efektifnya dengan pemberian kortison atau phenylbutazone dan cukup efektif pada penderita inflamasi kronik sehingga mengonsumsi kunyit yang cair (seperti dalam bentuk jus) diprediksi sangat baik bagi penderita kusta. Sifat antiinflamasi dapat ditunjukkan dengan kemampuannya untuk menghambat kedua biosintesis inflamasi prostaglandin dari asam arachidonic dan fungsi neutrofil selama proses inflamasi.(11)

Curcumin Longa sebagai Zat Neuroprotektor bagi Pasien Kusta
Kemampuannya sebagai neuroprotektor membuat kunyit dapat mengantigregasi Aβ, menghambat β secretase, dan meningkatkan aktivitas asetilkolin. Kemampuan antiinflamasi pada kunyit dibuktikan dapat menghambat aktivitas NF-kβ, siklooksigenase-2 (COX-2), dan lipooksigenase yang terlibat dalam proses sintesis zat anti proinflamasi seperti leukotrin dan prostaglandin. Potensi yang dimilikinya dapat mencegah perburukan dari penderita kusta. Kemudian ada mekanisme yang ditemukan bahwa kunyit mampu menekan produksi sitokin yang menyebabkan terjadinya inflamasi dengan cara menghambat transkripsi yang diperantarai oleh protein aktivasi (AP-1) dan menekan aktivitas inducible nitric oxide synthase pada makrofag. Berdasarkan hasil studi, kunyit juga mampu mencegah kerusakan DNA fibroblas.(12) Mekanismenya dengan menghambat aktivitas lipid peroksidase dan jumlah ROS yang diinduksi oleh homosistein dengan menurunkan kadar manoldialdehid dan meningkatkan ekspresi enzim antioksidan seperti glutation peroksidase dan superoksidan dismutase. Efek ini dapat mengurangi neurotoksisitas homosistein pada penderita kusta sehingga kunyit disebut sebagai agen neuroproktektor. Ini sangat berperan dalam terjadinya stres oksidatif selama pengobatan MDT.(11,12)

Curcumin Longa sebagai Zat Antioksidan dengan Menurunkan Tingkat Stres Oksidatif

Multidrug therapy (MDT) merupakan metode pengobatan dengan kombinasi tiga obat yaitu dapson, rifampisin, dan clofazimin.(5-7) Mekanismenya dengan menghambat sintesis asam dihidrofilik oleh persaingan dengan asam para-aminobenzoik.(1) Pengobatan ini tidak boleh dilakukan sebagai monoterapi karena dapat menyebabkan resistensi obat terhadap obat lainnya. Efek samping yang didapat dari pengobatan ini antara lain urin berwarna kemerahan setelah meminum obat rifampisin, menyebabkan kulit kering dan berwarna kecoklatan atau kehitaman setelah meminum clofazimin, lainnya adalah efek samping alergi dan kulit gatal.(5) Selain efek samping tersebut, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Taysa Ribeiro Schalcher dkk menemukan bahwa metode pengobatan ini dapat mengurangi beberapa aktivitas enzim antioksidan dan berpengaruh dalam akumulasi Reactive Oxygen Species (ROS) yang dapat menyebabkan perubahan hematologi seperti metemoglobinemia. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penurunan sistem antioksidan sebagai katalase, peningkatan glutation, dan kenaikan metemoglobinemia dapat terjadi dalam proses pengobatan MDT. Ini dapat terjadi akibat oksidator dan ketidakseimbangan antioksidan sistemik yang disebabkan dari proses infeksi dengan MDT pada penderita kusta.(7) Manifestasi utama dari kapasitas oksidatif dapson dihubungkan dengan hidroksilamin yang menginduksi metemoglobinemia di pasien yang mungkin juga terjadi hemolisis.(1) Baru-baru ini, penelitian molekuler yang dilakukan menunjukkan bahwa sifat MDT memiliki sifat biologis yang sangat dipengaruhi oleh mekanisme redoks terkait dengan kelompok sulfon serta cincin nukleofilik analinnya. Melalui bentuk metabolisme turunan oksidatif, MDT dapat mendesak terjadinya stres oksidatif lokal yang berdampak pada makromolekul seperti protein, lemak, karbohidrat, dan asam nukleat, sehingga terjadi nekrosis selular pada pasien kusta. Kunyit melindungi tubuh manusia dari radikal bebas karena antioksidan yang tinggi.(12,13) Air dan ekstraks soluble padat kunyit serta komponen curcumin menunjukkan aktivitas antioksidan yang kuat bila dibandingkan dengan vitamin C dan vitamin E. Kunyit juga menghasilkan efek pada endothelial oxigenase-1 (sebuah protein penyebab stress) melalui pengaruh pada sel bovine aortic endothelial. Ini telah terbukti lewat penelitian in vivo yang diinkubasi selama 18 jam dengan hasil kunyit dipertinggi resisten selular kepada kerusakan okasidatif. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Unnkrishnan dan Rao bahwa kunyit memiliki antioksidan yang tinggi. Aktivitas antioksidan pada kunyit dapat dimediasi oleh enzim antioksidan seperti dismutase superoksida, catalase, dan glutatione peroksidase. Kunyit mampu menghambat aktivitas lipid peroksidase dan beperan dalam menentukan banyaknya jumlah spesien oksigen reaktif.(10,12,13) Curcuma longa yang memiliki segudang manfaat bagi manusia dikenal sebagai multiple agent karena berperan dalam antiinflamasi, neuroprotektor, dan antioksidan. Kandungan yang dimilikinya terutama zat Kurkumin berperan sebagai terapi adjuvan bagi pasien kusta. Terapi ini harus dikembangkan lagi karena Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Hal ini dinilai sangat berpotensi untuk menurunkan atau bahkan menghentikan efek dan dampak yang muncul dari penyakit kusta sehingga perlahan-lahan prevalensi kusta di Indonesia menjadi turun. Selain itu, juga diperlukan penelitian lebih lanjut lagi untuk meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa Curcuma longa efektif diterapkan sebagai terapi adjuvan bagi pasien kusta.

Referensi
  1. Kai M, Nguyen Phuc NH, Nguyen HA, Pham THBD, Nguyen KH, Miyamoto Y, et al. Analysis of drug-resistant strains of Mycobacterium leprae in an endemic area of Vietnam. Clin Infect Dis Off Publ Infect Dis Soc Am. 2011 Mar 1;52(5): e127–132.
  2. WHO | Leprosy [Internet]. WHO. [cited 2014 Oct 14]. Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs101/en/.
  3. Kementrian Kesehatan R. Pedoman Nasional Program Pengendalian Penyakit Kusta. Jakarta; 2012.
  4. Pinheiro RO, de Souza Salles J, Sarno EN, Sampaio EP. Mycobacterium leprae-host-cell interactions and genetic determinants in leprosy: an overview. Future Microbiol. 2011 Feb;6(2):217–30.
  5. Bhat RM, Prakash C. Leprosy: An Overview of Pathophysiology. Interdiscip Perspect Infect Dis. 2012 Sep 4;2012:e181089.
  6. Goldsmith LA, Fitzpatrick TB, editors. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. 8th ed. / [edited by] Lowell A. Goldsmith ... [et al.]. New York: McGraw-Hill Professional; 2012.
  7. Walker SL, Lockwood DNJ. The clinical and immunological features of leprosy. Br Med Bull. 2006;77-78:103–21.
  8. Mandell GL, Bennett JE, Dolin R, editors. Mandell, Douglas, and Bennett’s principles and practice of infectious diseases. 7th ed. Philadelphia, PA: Churchill Livi gstone/Elsevier; 2010. 2 p.
  9. Cecil RL, Goldman L, Schafer AI, editors. Goldman’s Cecil medicine. 24th ed. Philadelphia: Elsevier/Saunders; 2012. 2569 p.
  10. Wannasilp N. Curcumin—Biological and Medicinal Properties. Mahidol University; 2007.
  11. Ahmed T, Gilani A-H. Inhibitory effect of curcuminoids on acetylcholinesterase activity and attenuation of scopolamine-induced amnesia may explain medicinal use of turmeric in Alzheimer’s disease. Pharmacol Biochem Behav. 2009 Feb;91(4):554–9.
  12. Ataie A, Sabetkasaei M, Haghparast A, Hajizadeh Moghaddam A, Ataie R, Nasiraei Moghaddam S. An investigation of the neuroprotective effects of Curcumin in a model of Homocysteine - induced oxidative stress in the rat’s brain. Daru J Fac Pharm Tehran Univ Med Sci. 2010;18(2):128–36.
  13. Bergamaschi MM, Alcantara GKS, Valerio DAR, Queiroz RHC. Curcumon could prevent methemoglobinemia induced by dapsone in rats. Food and Chemical Toxicology Journal. 2011;49(2001): 1638-1641.

Monday, July 6, 2015

Half of Journey My Ramadhan: Merekat Bersama Kalian




… Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Imam Syafii

Aku merasa ditampar kalau berkali-kali membaca perkataan Imam Syafii tersebut. Kutipan yang aku ambil dari Buku Negeri 5 Menara karya A. Fuadi ini benar-benar nyata terjadi dalam hidupku. Ketika SMA, berkali-kali aku khatamkan buku ini bahkan sampai sekarang masih membekas. Ketika memutuskan merantau untuk meraih impian awalnya memang sulit. Tetapi, merantau bukan berarti (akan) kehilangan keluarga. Justru kamu akan mendapatkan keluarga baru, cerita baru, kisah baru, lingkungan baru, budaya baru, petualangan baru, dan lainnya yang serba baru. Merantaulah, agar engkau mengetahui betapa berharganya waktu bersama keluarga dan agar engkau tahu siapa yang engkau rindukan.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu. Begitulah waktu yang silih berganti pergi meninggalkan jejak. Tidak terasa sekarang sudah memasuki 17 Ramadhan 1436 H. Bulan yang kau sebut bulan yang penuh berkah ini hanya memberikan 29 atau 30 hari kepada manusia sebagai ajang “pertobatan”. Sekarang hanya menyisakan sekitar 13 hari lagi. Tidak sedikit meninggalkan kisah dalam perjalanan Ramadhanku tahun ini. Iya benar. Kisah bersama kalian. Orang-orang yang singgah di hidupku.

Malam Ramadhan pertama dihiasi dengan sholat tarawih di Mesjid Universitas Indonesia (MUI). Jama’ah yang ramai menemaniku dalam kesunyian saat itu. Tetesan air mata tak bisa terhindarkan dariku, saat aku harus menyadari bahwa Ramadhan pertama tahun ini tanpa keluarga di rumah. Iya, tanpa Papa dan Mama. Aku hanya bisa menitipkan doa agar mereka selalu dalam naungan Allah SWT. Mungkin ini terkesan cengeng dan manja. Tapi itulah dia hasil keoverprotectifan orang tuaku terhadap anak bungsunya. In shaa Allah ini menjadi awal belajarku untuk mandiri di tanah rantau.

Tarawih malam pertama Ramadhan 1436 H di MUI, Depok


Rabu, 17 Juni 2015 M / 1 Ramadhan 1436 H
Pukul 04.00, aku dan teman-teman madani bangun secara “terpaksa” karena harus menyantap makan sahur. Pastinya diselingi dengan rasa sedih. Makan sahur di Ramadhan pertama ini di warung dekat kontrakan daerah Barel. Makan dengan seadanya. Tanpa susu buatan Mama. Tanpa masakan Mama. Pikiranku melayang-layang ke Medan. Mungkin bagi teman-teman yang lain ini sudah biasa yang sejak sekolah dulu hidupnya di asrama. Tetapi, bagiku tidak. Selama 19 tahun ini, Ramadhan selalu aku habiskan bersama keluarga tanpa melewati sehari pun. Titik akhir dari ritual sahur pertama ini adalah meneteskan air mata (lagi). Bukan karena sedih tanpa keluarga di rumah, tetapi karena aku masih diberi kesempatan untuk menyantap sahur di 1 Ramadhan 1436 H. Banyak hikmah yanga aku dapatkan dari makan sahur ini setelah aku memflashhback beberapa Ramadhan silamku. Usai sahur dan melaksanakan ibadah sholat subuh dengan syahdunya, masih saja aku dan teman-teman menyibukkan diri dengan hal duniawi. APA? Are you ready? Karena pada hari ini juga kami melaksanakan suatu “ibadah” yaitu ujian Objective Structure Clinical Examination (OSCE). Beragam pikiran terlintas di kepala dan kalian tahu ini cukup mengganggu kualitas ibadahku di hari pertama Ramadhan. Beriring doa selalu kami limpahkan kepada Allah agar diberi kemudahan dalam melaksanankan ujian OSCE pada hari itu. Alhamdulillah ya. Lupa cuci tangan di station antopometri. Kya kya. Yasudahlah, Allah benar-benar memberikan kemudahan kepadaku dan teman-teman lainnya. Alhamdulillah 100% angkatan lulus.
   
Ifthar bareng Faris yang lahap menyantap hidangan berbuka puasa di warung makan Barel, Depok
Makanan berbuka puasa di hari pertama Ramadhan

Hari pertama Ramadhan berhasil aku lewati dengan segala kesendirian. Ini menjadi cikal bakal aku untuk survive 10 hari kedepan selama Ramadhan di Depok. Hari-hari aku lewati bersama teman-teman Madani yang aku sayangi. Aji, Fadhian, Fadhil, Faris, Irfan, Reza Haryo, walaupun Haryo jarang di Pondok Madani. Terkadang diselingi dengan hadirnya Flora Normal Madani. Sebut saja Kamal, Fahril, Yuke, Awang, Waznan, Dedy, Ardi, Ilham dan lainnya. Mereka-mereka ini yang menjadikan aku semangat untuk melewati bulan penuh berkah tahun ini, yang selalu mengingatkan aku. Sahur dilewati bersama mereka, buka puasa dilewati bersama mereka, dan sholat tarawih dilewati bersama mereka juga. Tidak lupa juga ada program safari Ramadhan dan aku hanya berkesempatan untuk ikut ke Mesjid Dian Al Mahri (Kubah Emas) Depok. Uniknya, di mesjid ini, imam selalu meminta kepada jama’ah untuk mendoakan pendiri mesjid ini yaitu H. Maimun Al Rasyid dan Hj. Dian Juriah Maimun Al Rasyid, pengusaha dermawan asal Banten. Aku pun memutuskan untuk sholat tarawih di MUI bersama Ilham. Syukurnya masih sempat. Gak tau kenapa hati ini sudah terpikat dengan MUI.


 
Kami sekeluarga mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadahn 1436 H
Mesjid Dian Al Mahri (Kubah Emas), Depok

Ramadhan kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh. Semuanya aku lewati bersama kalian. Pada Ramadhan ketiga, buka puasa bersama Keluarga Dokter Muslim (KDM) Madani pun tidak bisa aku elakkan. KDM yang merupakan suatu wadah dimana muslim angkatan FKUI untuk tumbuh dan berkembang menjadi dokter muslim. Bersyukur bisa hadir di tengah-tengah keluarga ini. Setidaknya, canda dan tawa bersama mereka mengobati Ramadhanku. Beberapa hari berikutnya adalah buka bareng PSDM-ers, sang pembina muslim FKUI. Walaupun hanya dihadiri Faris, kak Cholis, Nindi, Ummul, dan saya beserta sahabat PSDM yaitu Aji sebagai juru foto. Tapi tidak masalah. Dapat dikatakan cukuplah daripada tidak sama sekali. Alhamdulillah diberi kesempatan berkumpul untuk meraih berkahMu bersama kalian-kalian semua. Dari dua buka bersama tersebut sebenarnya aku menghasilkan beberapa refleksi buat kita semua. Selama ini, buka bersama menjadi salah satu ajang untuk “silaturahim” kepada teman-teman tetapi tidak mengindahkan beberapa hal. Diantaranya buka bersama menjadikannya sebagai faktor risiko untuk hidup boros, sholat magrib telat bahkan bolos untuk sholat tarawih. Coba kita pikirkan lagi baik-baik tujuan awal kita untuk buka bersama itu apa. Bisa buat referensi buka bersama diawali dengan tilawah dahulu, ceramah, kemudian ifthar, sholat magrib ke mesjid dan sholat isya serta tarawih jama’ah. Itulah ajang silaturahim dengan ukhuwah sesungguhnya. Jadi yang didapat tidak hanya jepretan foto yang diupload ke instagram serta media sosial lainnya. Ramadhan ini diajarkan untuk lebih peka dengan kehidupan sosial sekitar. Banyak disana yang makanan berbukanya hanya seteguk air saja. Berbagilah :)

Ifthar bareng Keluarga Dokter Muslim (KDM) Madani 2015 di Ruang Akuarium FKM UI, RIK UI, Depok
Ifthar bareng PSDM di Foodcourt Margo City, Depok
Berbagilah Kawan


Pada ramadhan ketujuh, 24 Juni 2015 M, tepatnya waktu dini hari aku bersama geng pesona depok berangkat ke pesona depok untuk melingkar. Mendekatkan kembali hati-hati kami yang mungkin uda mulai retak. Suatu hal yang sangat luar biasa diberi kesempatan untuk liqo waktu dini hari. Benar-benar syahdu walaupun diselingi dengan rasa kantuk yang teramat dalam. Dilanjuti dengan sahur bersama di rumah sang murobbi. Membuat makan sahur kala itu lebih berkesan dari makan sahur sebelumnya. You know lah. Setelah ritual mingguan tersebut selesai, kami langsung ke Pondok Madani untuk membersihkan rumah yang telah kami zalimi selama ujian melanda. Sampai beberapa jam hingga akhirnya rumah menjadi lebih berseri. Hati pun menjadi senang.

Jum’at, 26 Juni 2015 / 10 Ramadhan 1436 H
Tiba waktunya, satu hari sebelum kepulanganku ke Medan. Jum’at,  26 Juni 2015 / 10 Ramadhan 1436 H tidak menjadi sekedar wacana. Betapa senangnya hatiku ketika ibunya Fadhian membelikan baju koko warna biru yang seragam kepada kami berenam. Serasa anak dari suatu panti asuhan tertentu. Kami pun siap untuk beraksi. Bersama satu rombongan Pondok Madani sholat di Mesjid At-Tiin dan menginap di rumah Haryo. Sebelumnya berbuka puasa di warungnya Haryo juga dan bertemu dengan pa’le-pa’lenya haryo dan bibi-bibinya haryo. Terlalu banyak pa’le haryo disini. Mungkin mencapai puluhan. Banyak rasa yang aku rasakan disini. Bukan rasa ayam penyet tapi rasa apa ya hmm. Rasa memiliki saudara mukmin yang dihadiahi oleh Allah kepadaku. Alhamdulillah bisa merasakan nikmat tersebut. Banyak moment yang kami lewati bersama pada malam itu dengan tarawih dan ngobrol yang gak jelas hingga diakhiri dengan foto keluarga dengan 7 orang full team ba’da subuh. Akhirnya tercapai. Tunggu saja rilisnya. 
Irfan, Mawan, Fadhil, Fadhian, Faris, Haryo, Aji di Mesjid At-Tiin, Jakarta

Sabtu, 27 Januari 2015 M / 11 Ramadhan 1436 H
Kini tiba saatnya, kita kan berpisah. Lagu yang terngiang waktu perpisahan zaman Sekolah Dasar (SD). Tepat hari ini, aku pamit untuk balik ke kampung halaman. Sebenarnya gak kampung juga sih, Kota Medan. Akhirnya, aku bertemu dengan kalian keluargaku di rumah, saudara-saudara, dan tetangga yang telah aku tinggalkan beberapa bulan. Rasanya beda banget karena semester sebelumnya aku hanya 4 hari saja di Medan. Aku terbang mengangkasa dengan Garuda Indonesia bersama Astri Salatin teman SMA ku. Sayangnya pas Ramadhan, jadi makanan di pesawat gak bisa dimakan. Untung saja sekarang ada jasa bungkus makanan. Tidak terasa mengudara selama dua jam akhirnya aku menapakkan kaki ini di tanah kelahiranku. Terlihat lambaian tangan mama. Ahhhh rindunya wahai Bunda. Disepanjang perjalanan 40 menit aku habiskan kuota rinduku dengan bercengkerama di mobil. Kota Medan yang usang kenapa engkau begitu berbeda. Sudah banyak berubah kota yang terkenal dengan “keras”nya. Walaupun tidak sempat berbuka puasa di rumah tetapi tidak masalah. Sambutan hangat mereka membuatku semangat untuk mengejar target yang telah aku impikan 11 bulan sebelumnya.

Ramadhan kedua belas, ketiga belas, keempat belas, kelima belas, keenam belas, dan ketujuh belas. Sebagian besar aku habiskan dirumah. Akhirnya bisa menikmati santapan sahur buatan mama, susu buatan mama, dan kehangatan keluarga. Tidak lupa Mesjid Al-Utamaniyah yang aku rindukan, yang menjadi saksi kenakalan aku saat masa kecil. Di Medan, aku diberi kesempatan untuk bersilaturahim dengan delegasi-delegasi Indonesia International (Bio)Medical Students' Congress (INAMSC). Dengan sambutan rintik-rintik hujan menambah keberkahan sore itu. Aku sempatkan untuk buka bersama di Angkring Yogyakarta (tidak terlalu jauh dari lokasi jatuhnya pesawat hercules di Jamin Ginting Medan) walaupun tanpa kehadiran Ramlan Pulungan FK USU 2013 (Mapres III USU 2015). Gak papa, gak masalah. Usai itu, kami akhiri dengan sholat jama’ah di Mesjid Dakwah USU dan pulang ke rumah serta kosan masing-masing. Good luck buat segala aktivitas kalian.
Mawan beserta delegasi INAMSC (Kak Ummah, Kak Dyan, dan Kak Ayu) di Angkriang Yogyakarta, Jamin Ginting Medan
Sekarang????!! Sudah 17 Ramadhan. Sudah tinggal berapa halaman lagi tilawahnya, sudah berapa sholat malam yang engkau tinggalkan. Sadarkah kawan, Ramadhan sudah setengah jalan. Sudahkah engkau meminta magfhirahNya? Janganlah engkau sia-siakan Ramadhan ini. Janganlau engkau membuatnya menangis. Jangan pernah engkau salahkan jika tahun depan Allah tidak memberikan kesempatan untuk  mencium wanginya Ramadhan tahun depan. Ayo upgrade diri kita masing-masing karena tantangan sesungguhnya bukanlah 29 atau 30 hari Ramadhan melainkan 11 bulan kedepan. Bagaimana output 11 bulan kedepan? Oleh karena itu, kita dididik selama 29 atau 30 hari yang tidak lama ini akan berakhir.
Semangat Kawan


Sabtu, 4 Juli 2015 M / 17 Ramadhan 1436 H

Kamar yang telah lama ditinggalkan
Rumah tercinta, Jln. Utama Gg. Tengah III No 15, Medan