… Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan
dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup
terasa setelah lelah berjuang.
–Imam
Syafii
Aku
merasa ditampar kalau berkali-kali membaca perkataan Imam Syafii tersebut. Kutipan
yang aku ambil dari Buku Negeri 5 Menara karya A. Fuadi ini benar-benar nyata
terjadi dalam hidupku. Ketika SMA, berkali-kali aku khatamkan buku ini bahkan
sampai sekarang masih membekas. Ketika memutuskan merantau untuk meraih
impian awalnya memang sulit. Tetapi, merantau bukan berarti (akan) kehilangan
keluarga. Justru kamu akan mendapatkan keluarga baru, cerita baru, kisah baru,
lingkungan baru, budaya baru, petualangan baru, dan lainnya yang serba baru. Merantaulah,
agar engkau mengetahui betapa berharganya waktu bersama keluarga dan agar
engkau tahu siapa yang engkau rindukan.
Detik
berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu.
Begitulah waktu yang silih berganti pergi meninggalkan jejak. Tidak terasa
sekarang sudah memasuki 17 Ramadhan 1436 H. Bulan yang kau sebut bulan yang
penuh berkah ini hanya memberikan 29 atau 30 hari kepada manusia sebagai ajang
“pertobatan”. Sekarang hanya menyisakan sekitar 13 hari lagi. Tidak sedikit
meninggalkan kisah dalam perjalanan Ramadhanku tahun ini. Iya benar. Kisah
bersama kalian. Orang-orang yang singgah di hidupku.
Malam
Ramadhan pertama dihiasi dengan sholat tarawih di Mesjid Universitas Indonesia
(MUI). Jama’ah yang ramai menemaniku dalam kesunyian saat itu. Tetesan air mata
tak bisa terhindarkan dariku, saat aku harus menyadari bahwa Ramadhan pertama tahun
ini tanpa keluarga di rumah. Iya, tanpa Papa dan Mama. Aku hanya bisa
menitipkan doa agar mereka selalu dalam naungan Allah SWT. Mungkin ini terkesan
cengeng dan manja. Tapi itulah dia hasil keoverprotectifan
orang tuaku terhadap anak bungsunya. In shaa Allah ini menjadi awal belajarku
untuk mandiri di tanah rantau.
 |
| Tarawih malam pertama Ramadhan 1436 H di MUI, Depok |
Rabu, 17 Juni 2015 M / 1 Ramadhan
1436 H
Pukul
04.00, aku dan teman-teman madani bangun secara “terpaksa” karena harus
menyantap makan sahur. Pastinya diselingi dengan rasa sedih. Makan sahur di
Ramadhan pertama ini di warung dekat kontrakan daerah Barel. Makan dengan
seadanya. Tanpa susu buatan Mama. Tanpa masakan Mama. Pikiranku melayang-layang
ke Medan. Mungkin bagi teman-teman yang lain ini sudah biasa yang sejak sekolah
dulu hidupnya di asrama. Tetapi, bagiku tidak. Selama 19 tahun ini, Ramadhan
selalu aku habiskan bersama keluarga tanpa melewati sehari pun. Titik akhir
dari ritual sahur pertama ini adalah meneteskan air mata (lagi). Bukan karena
sedih tanpa keluarga di rumah, tetapi karena aku masih diberi kesempatan untuk
menyantap sahur di 1 Ramadhan 1436 H. Banyak hikmah yanga aku dapatkan dari
makan sahur ini setelah aku memflashhback beberapa Ramadhan silamku. Usai sahur
dan melaksanakan ibadah sholat subuh dengan syahdunya, masih saja aku dan
teman-teman menyibukkan diri dengan hal duniawi. APA? Are you ready? Karena pada hari ini juga kami melaksanakan suatu
“ibadah” yaitu ujian Objective
Structure Clinical Examination (OSCE). Beragam pikiran terlintas di
kepala dan kalian tahu ini cukup mengganggu kualitas ibadahku di hari pertama
Ramadhan. Beriring doa selalu kami limpahkan kepada Allah agar diberi kemudahan
dalam melaksanankan ujian OSCE pada hari itu. Alhamdulillah ya. Lupa cuci tangan
di station antopometri. Kya kya. Yasudahlah, Allah benar-benar memberikan
kemudahan kepadaku dan teman-teman lainnya. Alhamdulillah 100% angkatan lulus.
 |
| Ifthar bareng Faris yang lahap menyantap hidangan berbuka puasa di warung makan Barel, Depok |
 |
| Makanan berbuka puasa di hari pertama Ramadhan |
Hari
pertama Ramadhan berhasil aku lewati dengan segala kesendirian. Ini menjadi
cikal bakal aku untuk survive 10 hari
kedepan selama Ramadhan di Depok. Hari-hari aku lewati bersama teman-teman
Madani yang aku sayangi. Aji, Fadhian, Fadhil, Faris, Irfan, Reza Haryo,
walaupun Haryo jarang di Pondok Madani. Terkadang diselingi dengan hadirnya
Flora Normal Madani. Sebut saja Kamal, Fahril, Yuke, Awang, Waznan, Dedy, Ardi,
Ilham dan lainnya. Mereka-mereka ini yang menjadikan aku semangat untuk
melewati bulan penuh berkah tahun ini, yang selalu mengingatkan aku. Sahur
dilewati bersama mereka, buka puasa dilewati bersama mereka, dan sholat tarawih
dilewati bersama mereka juga. Tidak lupa juga ada program safari Ramadhan dan
aku hanya berkesempatan untuk ikut ke Mesjid Dian Al Mahri (Kubah Emas) Depok. Uniknya,
di mesjid ini, imam selalu meminta kepada jama’ah untuk mendoakan pendiri
mesjid ini yaitu H. Maimun Al Rasyid dan Hj. Dian Juriah Maimun Al Rasyid,
pengusaha dermawan asal Banten. Aku pun memutuskan untuk sholat tarawih di MUI
bersama Ilham. Syukurnya masih sempat. Gak tau kenapa hati ini sudah terpikat
dengan MUI.
 |
| Kami sekeluarga mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadahn 1436 H |
 |
| Mesjid Dian Al Mahri (Kubah Emas), Depok |
Ramadhan
kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh.
Semuanya aku lewati bersama kalian. Pada Ramadhan ketiga, buka puasa bersama
Keluarga Dokter Muslim (KDM) Madani pun tidak bisa aku elakkan. KDM yang
merupakan suatu wadah dimana muslim angkatan FKUI untuk tumbuh dan berkembang
menjadi dokter muslim. Bersyukur bisa hadir di tengah-tengah keluarga ini.
Setidaknya, canda dan tawa bersama mereka mengobati Ramadhanku. Beberapa hari
berikutnya adalah buka bareng PSDM-ers, sang pembina muslim FKUI. Walaupun hanya
dihadiri Faris, kak Cholis, Nindi, Ummul, dan saya beserta sahabat PSDM yaitu
Aji sebagai juru foto. Tapi tidak masalah. Dapat dikatakan cukuplah daripada
tidak sama sekali. Alhamdulillah diberi kesempatan berkumpul untuk meraih
berkahMu bersama kalian-kalian semua. Dari dua buka bersama tersebut sebenarnya
aku menghasilkan beberapa refleksi buat kita semua. Selama ini, buka bersama
menjadi salah satu ajang untuk “silaturahim” kepada teman-teman tetapi tidak
mengindahkan beberapa hal. Diantaranya buka bersama menjadikannya sebagai
faktor risiko untuk hidup boros, sholat magrib telat bahkan bolos untuk sholat
tarawih. Coba kita pikirkan lagi baik-baik tujuan awal kita untuk buka bersama
itu apa. Bisa buat referensi buka bersama diawali dengan tilawah dahulu,
ceramah, kemudian ifthar, sholat magrib ke mesjid dan sholat isya serta tarawih
jama’ah. Itulah ajang silaturahim dengan ukhuwah sesungguhnya. Jadi yang didapat
tidak hanya jepretan foto yang diupload ke instagram serta media sosial
lainnya. Ramadhan ini diajarkan untuk lebih peka dengan kehidupan sosial
sekitar. Banyak disana yang makanan berbukanya hanya seteguk air saja.
Berbagilah :)
 |
| Ifthar bareng Keluarga Dokter Muslim (KDM) Madani 2015 di Ruang Akuarium FKM UI, RIK UI, Depok |
 |
| Ifthar bareng PSDM di Foodcourt Margo City, Depok |
 |
| Berbagilah Kawan |
Pada
ramadhan ketujuh, 24 Juni 2015 M, tepatnya waktu dini hari aku bersama geng
pesona depok berangkat ke pesona depok untuk melingkar. Mendekatkan kembali
hati-hati kami yang mungkin uda mulai retak. Suatu hal yang sangat luar biasa diberi
kesempatan untuk liqo waktu dini hari. Benar-benar syahdu walaupun diselingi
dengan rasa kantuk yang teramat dalam. Dilanjuti dengan sahur bersama di rumah
sang murobbi. Membuat makan sahur kala itu lebih berkesan dari makan sahur
sebelumnya. You know lah. Setelah
ritual mingguan tersebut selesai, kami langsung ke Pondok Madani untuk
membersihkan rumah yang telah kami zalimi selama ujian melanda. Sampai beberapa
jam hingga akhirnya rumah menjadi lebih berseri. Hati pun menjadi senang.
Jum’at, 26 Juni 2015 / 10 Ramadhan
1436 H
Tiba
waktunya, satu hari sebelum kepulanganku ke Medan. Jum’at, 26 Juni 2015 / 10 Ramadhan 1436 H tidak
menjadi sekedar wacana. Betapa senangnya hatiku ketika ibunya Fadhian
membelikan baju koko warna biru yang seragam kepada kami berenam. Serasa anak
dari suatu panti asuhan tertentu. Kami pun siap untuk beraksi. Bersama satu
rombongan Pondok Madani sholat di Mesjid At-Tiin dan menginap di rumah Haryo.
Sebelumnya berbuka puasa di warungnya Haryo juga dan bertemu dengan
pa’le-pa’lenya haryo dan bibi-bibinya haryo. Terlalu banyak pa’le haryo disini.
Mungkin mencapai puluhan. Banyak rasa yang aku rasakan disini. Bukan rasa ayam
penyet tapi rasa apa ya hmm. Rasa memiliki saudara mukmin yang dihadiahi oleh
Allah kepadaku. Alhamdulillah bisa merasakan nikmat tersebut. Banyak moment yang kami lewati bersama pada
malam itu dengan tarawih dan ngobrol yang gak jelas hingga diakhiri dengan foto
keluarga dengan 7 orang full team ba’da subuh. Akhirnya tercapai. Tunggu saja
rilisnya.
 |
| Irfan, Mawan, Fadhil, Fadhian, Faris, Haryo, Aji di Mesjid At-Tiin, Jakarta |
Sabtu,
27 Januari 2015 M / 11 Ramadhan 1436 H
Kini
tiba saatnya, kita kan berpisah. Lagu yang terngiang waktu perpisahan zaman
Sekolah Dasar (SD). Tepat hari ini, aku pamit untuk balik ke kampung halaman.
Sebenarnya gak kampung juga sih, Kota Medan. Akhirnya, aku bertemu dengan
kalian keluargaku di rumah, saudara-saudara, dan tetangga yang telah aku
tinggalkan beberapa bulan. Rasanya beda banget karena semester sebelumnya aku
hanya 4 hari saja di Medan. Aku terbang mengangkasa dengan Garuda Indonesia
bersama Astri Salatin teman SMA ku. Sayangnya pas Ramadhan, jadi makanan di
pesawat gak bisa dimakan. Untung saja sekarang ada jasa bungkus makanan. Tidak
terasa mengudara selama dua jam akhirnya aku menapakkan kaki ini di tanah
kelahiranku. Terlihat lambaian tangan mama. Ahhhh rindunya wahai Bunda.
Disepanjang perjalanan 40 menit aku habiskan kuota rinduku dengan bercengkerama
di mobil. Kota Medan yang usang kenapa engkau begitu berbeda. Sudah banyak
berubah kota yang terkenal dengan “keras”nya. Walaupun tidak sempat berbuka
puasa di rumah tetapi tidak masalah. Sambutan hangat mereka membuatku semangat
untuk mengejar target yang telah aku impikan 11 bulan sebelumnya.
Ramadhan
kedua belas, ketiga belas, keempat belas, kelima belas, keenam belas, dan
ketujuh belas. Sebagian besar aku habiskan dirumah. Akhirnya bisa menikmati
santapan sahur buatan mama, susu buatan mama, dan kehangatan keluarga. Tidak
lupa Mesjid Al-Utamaniyah yang aku rindukan, yang menjadi saksi kenakalan aku
saat masa kecil. Di Medan, aku diberi kesempatan untuk bersilaturahim dengan delegasi-delegasi Indonesia International
(Bio)Medical Students' Congress (INAMSC). Dengan sambutan
rintik-rintik hujan menambah keberkahan sore itu. Aku sempatkan untuk buka
bersama di Angkring Yogyakarta (tidak terlalu jauh dari lokasi jatuhnya pesawat
hercules di Jamin Ginting Medan) walaupun tanpa kehadiran Ramlan Pulungan FK USU
2013 (Mapres III USU 2015). Gak papa, gak masalah. Usai itu, kami akhiri dengan
sholat jama’ah di Mesjid Dakwah USU dan pulang ke rumah serta kosan
masing-masing. Good luck buat segala aktivitas kalian.
 |
| Mawan beserta delegasi INAMSC (Kak Ummah, Kak Dyan, dan Kak Ayu) di Angkriang Yogyakarta, Jamin Ginting Medan |
Sekarang????!!
Sudah 17 Ramadhan. Sudah tinggal berapa halaman lagi tilawahnya, sudah berapa
sholat malam yang engkau tinggalkan. Sadarkah kawan, Ramadhan sudah setengah
jalan. Sudahkah engkau meminta magfhirahNya? Janganlah engkau sia-siakan
Ramadhan ini. Janganlau engkau membuatnya menangis. Jangan pernah engkau
salahkan jika tahun depan Allah tidak memberikan kesempatan untuk mencium wanginya Ramadhan tahun depan. Ayo upgrade diri kita masing-masing karena
tantangan sesungguhnya bukanlah 29 atau 30 hari Ramadhan melainkan 11 bulan
kedepan. Bagaimana output 11 bulan
kedepan? Oleh karena itu, kita dididik selama 29 atau 30 hari yang tidak lama
ini akan berakhir.
Semangat Kawan
Sabtu,
4 Juli 2015 M / 17 Ramadhan 1436 H
Kamar
yang telah lama ditinggalkan
Rumah
tercinta, Jln. Utama Gg. Tengah III No 15, Medan