Ku akui, aku terlalu pengecut untuk mengatakannya langsung di depanmu
Bukan karena aku tak berani, bukan
Tapi karena aku terlalu takut untuk menangis di depan matamu yang
(mungkin) akan membuatmu khawatir
Aku benar-benar merindukanmu
Merindukan kita yang dulu
Aku rindu sorot mata indah berbinar yang tak palsu itu
Aku, sangat, rindu…
Mungkin memang salahku hingga menjadi seperti ini
Ah, tak penting lagi bagiku siapa yang bersalah
Aku tau, memang tak ada yang salah
Keadaan yang membuat kita begini
Tapi keadaan bisa dirubah kan? katakan ‘iya’ padaku, tolong…
Taukah kamu?
Sangat menyiksa menjadi orang yang tidak tahu apa-apa tentang kamu
atau merasakan kepura-puraan di antara kita
Aku merindukanmu, senyum ikhlasmu...
Maafkan aku, yang kamu rasa tidak lagi mengerti kamu
Maafkan aku, yang seenaknya mencurigaimu
Maafkan aku, yang menjadi orang tak spesial lagi untukmu
atau jika kau tak mau, ajari aku untuk mengerti kamu
Mengerti apa maumu, apa sifatmu
Ingatkah dulu bahwa kita adalah orang-orang yang saling
mengingatkan?
Aku hanya ingin yang terbaik bagimu, dan mungkin aku terlalu takut
melihatmu jauh
jauh dariNya, jauh dari kita yang seharusnya
Sungguh aku ingin menjadi orang yang kan kau datangi untuk tertawa
bersama
ataupun harus menjadi pundakmu saat kau lelah
ataupun menjadi orang di barisan terdepan untuk membantumu
mengatasi masalah
Iya, menjadi orang yang jadi bagian spesialmu, mungkin sama
seperti dulu
Jika kau membaca ini, tolong hubungi aku
Kau harus tau bahwa aku merindukanmu, benar-benar merindukanmu
Kau pasti tau kita sudah membangun ini sejak lama bukan?
Dulu aku bahagia sekali
Yang aku tau, kamu dulu juga merasakan hal yang sama
Jadi, bisakah kita mengulanginya dari awal?
Orang yang
benar-benar merindukanmu,
Hermawan